Sejak dari sekolah dasar saya menyukai make up, sering kali saya mengikuti kegiatan menari dan acara-acara sekolah lainnya, yang saya pikirkan saat itu bukan hal manggung di pentas  yang menyenangkan atau acaranya, namun saya lebih memikirkan hal yang menyenangkan lain, yaitu di dandanin atau di makeup.

Setiap ada acara tersebut saya bangun lebih pagi dari sebelumnya, segera mandi dan menghampiri mama saya untuk di dandani atau dimakeup, mama saya termasuk ibu yang bisa di bilang tomboy, mama tidak suka berdandan, hanya saja dia mempunyai beberapa alat makeup seperti eyeshadow, lipstik, bedak. Perangkat yang beliau gunakan hanya kalau ada pesta kondangan saja.

Menurut mama saya itu genit karena suka dimakeup, jadi saya berpikir kalau perempuan makeupan itu perempuan genit.

Tapi saya tidak terlalu perduli hal itu, yang saya suka mempercantik diri saya menggunakan kosmetik, terkadang kalau mama pergi, saya mengajak adik- adik ke kamar mama untuk main dandan-dandanan atau makeup-makeupan, hahaha konyol sih karena adik saya dua-duanya adalah laki-laki, namun tidak ada orang lain yang saya bisa ajak untuk melakukan hal tersebut selain adik-adik saya.




Saat usia saya 12 tahun, saya mulai mendapat uang jajan yang nominalnya lumayan besar ya pada jamannya, saya tabung uang tersebut untuk membeli peralatan makeup, dan bahan- bahan make up, pada usia tersebut saya sudah diizinkan mama untuk menggunakan uang tabungan sendiri untuk keperluan sendiri, belajar mengirit-ngirit untuk membeli bahan-bahan makeup.

Mama tidak menyukai apabila saya bermakeup, jadi saya membelinya tanpa sepengetahuan mama, dengan informasi terbatas tentang kosmetik dan baik atau buruk produknya saya membeli beberapa product yang sebenarnya tidak cocok untuk kulit anak seusia saya. Saat itu yang saya pikirkan adalah bisa pakai bedak, lipstik, blush on sudah cukup, tidak perduli merk apapun.

Alhasil kulit wajah saya sedikit bermasalah, dan terasa pada usia menginjak 20 ke atas. Kulit saya kusam dan sering berjerawat.

Setelah lulus sekolah mama ingin saya melanjutkan ke kursus-kursus untuk bekal saya dikemudian hari, saat itu saya bilang mama, saya ingin belajar make up, namun mama tidak mengizinkan, mama ingin saya belajar menjahit dan cutting rambut. Saya sedih sekali saat itu, namun saya tidak bisa melawan apa yang mama mau, saya mengikuti yang mama mau, namun saya tidak punya hati di kursus-kursus yang mama daftarkan, alhasil saya tidak lulus baik menjahit dan cutting rambut.

Menjahit saya sering bolos karena saya bosan dengan kedaan yang diusia saya harus berkumpul dengan para ibu-ibu seusia di atas saya bahkan seusia mama saya, belum lagi saya pusing dengan hitung menghitung pola dan sering kali saya ceroboh menggunakan jarum yang berakibat sering sekali jari saya tertusuk, akhirnya saya bilang sama mama  bahwa saya ga mau lagi meneruskan les menjahit, tapi saya sempat membuatkan satu buah kemeja untuk mama yang lengannya panjang sebelah.




Cutting rambut, setelah tidak berhasil di kursus menjahit mama mendaftarkan saya di kursus cutting rambut, lagi-lagi saya bosan, cukup banyak rambut mannequin saya refill,karena saya selalu salah potong, bahkan salah potong jari hahahaha, luka-luka jari terjadi disetiap minggunya, dan saya menyatakan ketidak sanggupan untuk melanjutkan cutting, kemudian saya belajar styling dan lumayan berhasil ilmu yang saya dapatkan dari styling.

Setelah usia saya bertambah dewasa, saya sudah mampu dalam hal materi untuk diri saya sendiri, keinginan yang belum tercapai ingin saya wujudkan, belajar makeup menjadi makeup artist, sebelumnya saya sudah bisa bermakeup alakadarnya, hanya saja saya belum paham beberapa tehnik bermakeup yang membuat wajah saya malah keliatan menor dan aneh.

Saya mendaftarkan diri di sekolah tata rias yang pada jamannya cukup terkenal bahkan sampai sekarang, yaitu di Martha Tilaar Beauty School. Saat itu bahagia sekali, dan singkat cerita setelah tamat belajar, guru saya mendorong saya untuk ikut salah satu kejuaraan make up, awalnya saya ragu dan ga pede karena saya baru saja tamat dari sekolah make up belum berbekal pengalaman apa-apa.

Saya mendapat seorang guru yang luar biasa baiknya, dia support saya terus, dia bilang saya punya bakat dan saya pasti bisa, apapun nanti hasilnya di kejuaraan make up tersebut, saya akan mendapatkan banyak hal, seperti pengalaman dan sertifikat, dst.

Jujur berpikir menang itu tidak sama sekali, melihat para make up artist lain yang sepertinya sudah berpengalaman dan ahli, dalam pikiran saya hanya seperti yang guru saya katakan “pengalaman”. Tapi saat itu saya berusaha sebaik-baiknya dan semampu saya.




Di penghujung acara saya sudah mengganti sepatu boots saya dengan sendal jepit karena terasa lelah dan sakit kaki saya harus berdiri di atas panggung.

Kemudian Mc menyampaikan pengumuman pemenang dari juara pertama sampai ketiga kelas advance makeup ( creative fantasy makeup), beauty makeup , dsb. Tidak disangka nama saya di sebutkan di juara ketiga kelas advance makeup, awalnya saya tidak sadar kalau nama saya di sebutkan, setelah model yang saya makeup menarik saya untuk ke atas panggung, saya baru tersadar dan OMG ga sangka banget, dan hal konyol terjadi di mana saya naik ke atas pangung menggunakan sandal jepit di mana banyak mata melihat tentunya. Tapi itu tidak membuat saya merasa risih karena saya sudah terlalu senang dan bahagia saat itu.

Setelah acara selesai saya telepon mama saya menangis saat itu ( lebay kan hahaha ) saya bilang ke mama, saya juara ke tiga dan saya berhasil kali ini, ini yang saya mau dari saya kecil, belajar merias atau makeup, setidaknya saya bisa membuat mama saya bangga atas apa yang saya raih, karena sebelumnya saya banyak mengecewakan beliau.

Dari cerita saya ini, saya ingin menyampaikan bahwa makeup itu adalah salah satu  bagian dari bakat, salah satu hal yang menyenangkan, salah satu impian. Menjadi makeup artist itu membanggakan dan menyenangkan, dapat membuat seseorang wanita menjadi lebih cantik adalah salah satu kepuasan. Menjadi makeup artist itu tidak susah namun juga tidak gampang. Tetapi sesuatu yang berasal dari bakat dan keinginan kuat akan bertahan lama, melekat seperti jiwa di dalam tubuh.

Banyak makeup artist pada jaman sekarang, dan memiliki bakat masing-masing dibidangnya, kunci yang selalu saya pegang adalah “tidak pernah merasa puas untuk terus belajar” karena makeup adalah seni bagi saya yang dimana seni tidak ada batasnya, dan disetiap pergantian jaman seni terus berkembang, begitu juga dengan makeup.

 

oke sekian dulu ya tulisan saya hari ini, terima kasih sudah membaca dan selalu mengikuti cerita-cerita kami di rtdisoho.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *